joomlarulit.com

images/logo.jpg

Warga Keluhkan Ketersediaan BBM Subsidi Waspada Langka di Hari Raya

Sebulan terakhir ini, masyarakat di Provinsi Bengkulu mulai kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi. Walaupun kuota untuk tahun 2017 ini khusus Provinsi bengkulu cukup banyak 233.597 kilo liter (KL) untuk premium  dan  solar 113.086 KL. Berikut Laporan khusus minggu ini.

Tampaknya masyarakat mulai ‘’dipaksakan’’ untuk menggunakan bahan bakar minyak non subsidi. Pasalnya walaupun pemerintah masih menyediakan BBM bersubsidi tapi realisasi di lapangan masyarakat tidak bisa menikmatinya dengan lancar. Terbukti ketersediaan BBM jenis premium di Bengkulu mulai diterpa kelangkaan.

Terutama di seluruh SPBU yang ada di Bengkulu kerap kali mengalami kekosongan stok premium dan solar. Bahkan sudah sembilan SPBU dari 38 yang ada di 10 kabupaten/kota yang tidak lagi sama sekali menjual BBM premium. Yakni di Kota Bengkulu terdapat dua SPBU di Rawa Makmur dan Air Sebakul, dan Bengkulu Selatan satu SPBU, serta Rejang Lebong dan Kepahiang masing-masing satu SPBU serta Arga Makmur dan Putri Hijau juga tidak melayani lagi. Termasuk di Benteng satu SPBU Kembang Seri.

Kelangkaan disebabkan lantaran kesediaan stok di SPBU terbatas. Yakni hanya 8-16 ton per harinya untuk premium dan 8 ton untuk solar. Sehingga dalam hitungan jam, minyak ribuan liter itu habis. Mirisnya tidak ada penambahan baik dari SPBU dan Pertamina. Bahkan ada dugaan bahwa pengurangan stok premium dan solar disegaja untuk melakukan BBM non subsidi.

Rusirman (40) warga Kelurahan Lingkar Timur mengakui kalau BBM jenis premium di Bengkulu sebulan terakhir ini macet. Walaupun ada di SPBU tidak bertahan lama habis. Sehingga banyak masyarakat terpaksa membeli non subsidi. Anehnya, kelangkaan tersebut terkesan dibiarkan pihak pertamina.  Sebab harusnya ketika stok habis, ada penambahan distribusi. Tetapi tidak dilakukan, sehingga ada kesan pembatasan disengaja karena ingin menjual BBM Non subsidi yang selama ini sejak harganya naik dan jauh selisih dengan premium  kurang diminati.

‘’Kini Pertamina berkoar-koar mengatakan bahwa distrubusi ditambah. Bahkan sampai 5-10 persen. Sekarang kemana penambahan stok itu. Sedangkan SPBU rata-rata hanya dapat 8 ton setiap harinya. Jadi patut dicurigai kalau Pertamina sudah menambah suplai, tapi realisasi di lapangan tidak ada penambahan. Harusnya kalau ditambah dari awalnya 8 ton menjadi 16 ton atau 24 ton. Ini nambah tidak, diklaim penambahan,’’ ujar Rusirman yang kesal ketika membeli premium di KM 8 mengalami kekosongan kepada RB kemarin.

Dikatakan Rusirwan, pihaknya berharap aparat dan pemerintah tidak tinggal diam. Kecuali jika dari pusat memang sudah membatasi. Apalagi menjelang arus mudik lebaran ini harusnya setiap SPBU itu disiapkan stok premium dan solar bersubsidi 1×24 jam tanpa kekosongan stok.

‘’Subsidi itu kan haknya masyarakat, harusnya tidak bisa dipaksakan harus membeli non subsidi dengan cara membatasi distribusi bersubsidi. Ini kan merugikan konsumen atau masyarakat. Sebab pertamina itu hanya penyalur,’’ bebernya.

Sementara Sales Exsecutiv Retail Depo Pertamina Pulau Baai, Denny Nugrahanto mengakui pihaknya sudah melakukan penambahan distrubusi sejak memasuki bulan puasa. Bahkan konsumsi BBM jenis premium sudah mencapai 16-17 persen dari kuota. Bahkan penambahan penyaluran 5-20 persen atau dari 200 Kl per hari sudah mencapai 300 KL.  Begitu juga untuk solar sudah mencapai 220 Kl per harinya.

‘’Kita melayani orderan sesuai permintaan SPBU. Rata-rata premium hanya 8-16 ton. Kalau solar 8 ton per harinya. Kini penjualan BBM non subsidi jenis Pertalite memang tinggi 54, 468 KL. Sedangkan premium hanya 39,727 KL dan solar juga 38,155 KL,’’ ujarnya.

Terpisah Manager Area Humas PT Pertamina Muhammad Roby Hervindo mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan penyaluran BBM di Bengkulu. Penyebab terbatasnya stok premium di SPBU dikarenakan sudah banyak tangki di SPBU digunakan untuk tangki BBM non subsidi. Diakuinya pihaknya memberikan fee lebih besar dalam penjualan non subsidi karena nilainya juga lebih jauh dibandingkan bersubsidi. Kemudian untuk rencana penghapusan subsidi belum juga ada dari pemerintah. Termasuk regulasi aturan baru seperti pembatasan kuota tidak ada.  Namun untuk harga khusus bersubsidi masih menunggu petunjuk dari pemerintah pada bulan depan. Sedangkan non subsidi belum ada kenaikan.

‘’Jadi kita tidak melakukan pengurangan stok ke SPBU. Kemudian jika terjadi antrean itu masih kategori normal. Sebab disebabkan memang pompa pelayananya sudah berkurang. Sedangkan stok di SPBU habis tentu itu karena banyaknya permintaan. Kemudian pihak SPBU tidak melakukan penambahan order lagi. Untuk terjadi kekosongan tersebut karena proses pengangkutan BBM dari Depo Pertamina butuh waktu. Selain armadanya kurang, juga permintaan dari SPBU baru disampaikan setiap paginya,’’ jelas Roby.

Dewan Minta Diselidiki

Disisi lain Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, H Edi Sunandar, SE meminta agar aparat penegak hukum dapat melakukan penyelidikan dan penelusuran. Terutama menindaklanjuti keluhan masyarakat akan sulitnya BBM jenis premium di SPBU. Sebab patut dipertanyakan jika Pertaminja sudah mengklaim ada penambahan, tetapi realisasi di lapangan tetap terjadi kelangkaan.

‘’Penambahan 5-20 persen itukan besar. Jadi kemana penambahannya kalau setiap hari SPBU itu diberikan 8 ton. Ini perlu ditelusuri. Harusnya Pertamina tidak boleh manahan-nahan stok. Sebab SPBU tidak mungkin tidak mau barang jualannya banyak laku. Sehingga penyebab karena minimnya permintaan SPBU kecil kemungkinan. Persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Tidak semua masyarakat mampu membeli BBM non subsidi. Kecuali jika ad a regulasi pembatasan dari pemerintah,’’ tegasnya.

Terpisah Asisten II Pemprov Drs. Ari Narsa JS meminta agar masyarakat lebih hemat. Baik dalam penggunaan BBM ataupun kebutuhan pokok lainnya. Pihaknya juga akan meminta agar Pertamina terus menambah stok BBM di SPBU. Sebab jangan sampai terjadi kekosongan. Apalagi dalam rangka menyambut arus mudik lebaran. Tingkat kebutuhan BBM sangat tinggi.

‘’Kita akan turun dan minta Dinas ESDM menelusuri penyebabnya. SPBU tidak boleh tutup apalagi kekurangan stok. Selama ini hasil koordinasi stok BBM aman, jadi tidak boleh kelangkaan,’’ pungkasnya.

SUMBER BERITA : RAKYAT BENGKULU